TNGHS, Ekowisata dan Warga Hijau
*) Membicarakan keindahan alam Indonesia tidak akan pernah membosankan. Begitu menakjubkannya panorama alam negeri ini sehingga patutlah kita bersyukur bahwa Tuhan memberikan anugerah alam yang tidak ada nilainya. Menikmati indahnya alam tidak harus melancong ke Bali atau tempat-tempat di luar negeri. Di luar Jakarta banyak tempat indah nan sejuk yang dapat kita kunjungi salah satunya adalah Taman Nasional Gn.Halimun Salak (TNGHS) di daerah Bogor.
Bertepatan dengan libur perayaan imlek beberapa waktu lalu, hari Sabtu (24/01/09) warga hijau dari BNI 46 berkesempatan berlibur ke sana. Wow! Begitu menawannya taman nasional ini sampai-sampai lupa kalau hari sedang hujan. Dengan berjumlah 13 orang termasuk penulis dan keluarganya, kami mulai berangkat jam 13.00 ke TNGHS dari arah Jl.Cikampak – Leuwiliang. Sekitar 30 menit perjalanan mendaki dengan berkendaraan mobil pribadi akhirnya kami sampai pada pintu gerbang masuk TNGHS.
Kawasan TNGH ini pertama kali ditetapkan menjadi salah satu taman nasional, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992 dengan luas 40.000 ha. Pada waktu itu pengelolaan kawasan ini masih berada di bawah pengelolaan sementara Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan nama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS). Selanjutnya pada Tanggal 23 Maret 1997 pengelolaan kawasan TNGHS resmi dipisah dari TNGP, untuk kemudian dikelola langsung oleh Unit Pelaksana Teknis Balai TNGHS, Dirjen PHKA, Departemen Kehutanan.
TNGHS memiliki beberapa puncak gunung dengan ketinggian antara 1.700 – 2.211 m dpl. Tempat yang paling diminati oleh para pecinta alam dan pendaki gunung adalah puncak Gn.Salak 1 yang berketinggian 2.211 dpl. Selain itu di kawasan ini banyak terdapat air terjun (curug) serta beberapa tempat pemandian air panas a.l : Curug Cangkuang (Cidahu); Curug Pilung (Girijaya); Curug Cibadak (Cijeruk); Curug Citiis (Ciapus); Curug Nangka (Taman Sari); Curug Ciputri (Tenjolaya); Curug Cihurang, Cirug Cigamea, Curug Ngumpet dan Curug Seribu (Pamijahan), Curug Cibereum (Jayanegara)
Kesadaran Cinta Alam
Beruntung kami sempat bercengkerama di air terjun Curug Ngumpet di area Gunung Endah/Bundar. Diiringi rintik hujan dan angin sepoi menusuk tulang, tanpa ragu-ragu kami menenggelamkan diri di Curug Ngumpet sambil berteriak-teriak lucu dan melepaskan kepenatan tugas-tugas kantor.
Sambil bercanda ria bersama kolega warga hijau BNI Card Center, kami juga mensyukuri nikmat Tuhan buat lingkungan hidup kita. Alam ciptaanNya begitu indah menambah daya pesona yang luar biasa. Apalagi Curug Ngumpet berada diketinggian kurang lebih 1.500 m dpl.
Kawasan TNGHS ini sebenarnya termasuk kawasan konservasi alam di bawah kelolaan Perum Perhutani dan Pemda Kab.Bogor. Oleh karenanya kawasan ini menyimpan potensi ekowisata yang luar biasa. Selain tempat pemandian air panas dan curug-curugnya yang indah dan segar, di sekitar area ini kita bisa juga menjumpai banyaknya monyet yang bergelantungan di pohon-pohon dan bergerak ke sana ke mari seakan-akan mau menyapa orang-orang Jakarta. Selain itu kawasan yang luas ini banyak tersedia tempat pemondokan untuk menginap, rumah-rumah makan dan tempat perkemahan termasuk nantinya dijumpai kawah Ratu. Namun untuk masuk ke kawah Ratu biasanya harus ada ijin dari pengelola TNGHS karena risiko bahaya gas-gas beracun yang keluar dari mulut kawah.
Dengan mengunjungi kawasan TNGHS sekali saja, dijamin orang akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa takjub ini bisa sekaligus bisa meningkatkan kesadaran akan cinta lingkungan karena TNGHS menyediakan banyak sekali spot-spot wisata yang tidak akan membosankan. Dengan kondisi area TNGHS kita juga dijamin bakal belajar akan pentingnya penghijauan, reforestasi dan manfaat konservasi sebagai cara memelihara alam demi harmonisasi manusia dan daya dukung lingkungannya, tak terkecuali interaksi dengan mahluk hidup lainnya.
Ekowisata dan Warga Hijau
Dengan potensi TGNH yang luar biasa ini, kawasan ini tak ragu lagi adalah salah satu tempat terbaik di Jawa Barat bagi kalangan warga hijau untuk meningkatkan kesadarannya akan alam dan lingkungan hidup. Selama ini kaum pekerja Jakarta seringkali menjadikan area Puncak sebagai tempat berekreasi, melakukan outing atau outbound. Sehingga tak heran, antrian kendaraan bermotor berjubel-jubel menaiki kawasan Puncak khususnya pada week-end atau hari-hari libur kolektif.
Ah betapa indahnya Gunung Halimun-Salak, sehingga tak kalah mempesonanya dibandingkan Gunung Gede-Pangrango yang juga area konservasi alam. Namun jalan utama menuju ke TNGHS masih relatif sempit, para pelancong dari Jakarta harus melewati jalan menuju darmaga kampus IPB Bogor sebagai akses utama menuju ke TNGHS. Jalan ‘arteri’ ini lumayan sempit dengan badan jalan terbagi dalam dua arah, penuh dengan bis-bis besar sehingga menambah keruwetan dan lelahnya perjalanan menuju area TNGHS.
Akhirnya menjelang bulan keluar dari peraduannya, setelah empat jam lebih kami bergelut di Curug Ngumpet dan berendam di hot spring Gunung Endah/Bundar, sekitar jam 18.00 wib kami kembali turun ke ‘base-camp’ di Jalan Cikampak. Base-camp kami adalah kediaman keluarga kolega warga hijau - Sdri Ike Puspasari- yang dengan ramahnya menyediakan banyak hidangan dan minuman yang mengenyangkan perut kami selain tentunya ‘dikenyangkan’ dengan panorama TNGHS yang luar biasa indah.
*) Reported by Leonard T.Panjaitan


Januari 30th, 2009 at 16:20
Wah.. Asyiik banget yawh..
sayang gw ga bisa ikut, jadi.. kapan mau jalan-jalan lagi nech, menikmati Hijau-nya Indonesia? hehehe..
Kabar-kabari aja yah..